PERKAMPUNGAN
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh semuaaa...
Heeeey ketemu lagiiii...
Namaku Juniarti hidup di sebuah desa yang lumayan terpencil. Nama desaku Sungai Bakau Besar Darat, Dusun Simpang Empat, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah. Aku warga pendatang. Dulu aku hidup di kota namun semuanya berubah ketika Ibu memilih melanjutkan hidupnya bersama pria Desa yang sekarang ku panggil Bapak. Tidak buruk tidak pula merasa terasingkan di sini semua tampak terlihat baik dan menyenangkan. Sejak itu aku sedang duduk dibangku 6 SD setelah kelulusan, aku mengharuskan ikut hidup di Desa ini. Biarku cerita sedikit tentang Desaku yang saat ini.
Hidup di sebuah pedesaan sangatlah mengasyikan, jauh dari kata polusi maupun keramaian yang membuat mata memanas jika melihat rentetan kendaraan yang memenuhi jalanan. Desaku bertepatan di pinggiran kota yang lumayan terpencil bahkan sinyalpun kerap kali menjadi hambatan bagi kami kaum milenial ini. Tak jarang kami harus keluar rumah hanya sekedar untuk menyeduh kopi di sebuah cafe jika ingin mendapatkan Wifi dan menjalankan tugas kami seperti ini.
Desaku masih banyak di kelilingi oleh pepohonan sehingga jarang untuk menikmati rasa panas seperti kalian yang hidup di perkotaan, hidup di rentetan para tetangga sangatlah menguntungkan selain terjalinnya silahturahmi yang semakin mempererat juga mengajarkan artinya sebuah rasa kesabaran yang luar biasa. Sebab, tak asing bagi kami jadi bahan cemohan ketika pulang malam ataupun bangun kesiangan. Entahlah kadang aku berpikir apakah struktur anak cucunya sudah sempurna? Ah ntahlah, suatu hal yang cukup membuat kepala berdenyut jika sering di pikirkan.
Udara di Desaku cukup menyegarkan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini semua tampak menjijikan. Asap bertebaran di setiap daerah membuat kami harus menghirup dalam-dalam udara yang terlihat sangat jahat. Jika kalian bertanya apa penyebabnya? Tentu saja lahan yang terbakar secara membabi buta membuat kami harus menikmati semuanya. Hujan enggan turun membuat pendidikan kami pun terhambat. Siapa yang ingin di salahkan? Para petinggi dan antek-anteknya? Itu terlihat sangat sia-sia, dan sekarang kami hanya menunggu kuasa Allah untuk menurunkan hujan agar kami dapat kembali menghirup udara dan hamparan hijau yang menyehatkan.
Selain itu, aku juga memiliki banyak teman di sini berbagai macam sifat membuat kami saling membaur satu sama lain. Sewaktu kecil kami selalu bermain bahkan tidak mengenal terik matahari yang membakar kulit semuanya terlihat bahagia bahkan sangat bahagia. Hingga pada masanya semua terlihat semakin dewasa dan masing-masing memiliki kesibukan tersendiri membuat kami jarang untuk berkumpul lagi. Tidak apa-apa aku dapat memahami semuanya bahkan saat inipun aku sudah mulai menyibukkan diri di dunia baruku.
Kembali lagi pada Desaku, aku kini kembali merindukan suasananya yang dulu bukan seperti sekarang yang mulai saling mengasingkan. Aku merindukan keramahan setiap orang namun itu terlihat semakin mustahil sebab semua sudah mulai mengenali dunia baru. Aku juga merindukan rumahku keluargaku tapi apalah daya waktu memaksaku untuk menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Iya, demi masa depan aku rela menyampingkan rasa rinduku terhadap semuanya.
Satu lagi, inginku sampaikan pada kalian semua. Jangan malu hidup di pedesaan jangan iri pada anak yang tumbuh di perkotaan. Yang perlu kalian syukuri hidup di pedesaan lebih terjamin masa depannya apalagi jaman sekarang kerap kali membutakan para anak remaja. Kenakalan yang sudah menjadi ajang di sebelah sana membuatnya sering kehilangan masa depan cemerlang.
Tapi...bukan bearti anak yang tumbuh diperkotaan tidak bisa mempunyai masa depan yang cemerlang, bisa kok, tergantung bagaiamana kita menyikapi era globalisasi ini saja :)
Udahan dulu ya ceritanya, hanya ini yang dapat saya ceritakan seputar kampung saya, semoga kalian tertarik untuk membacanya ;)
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
